Area Baca Ceria (ABC) #Jilid2

ABC Jilid 2 

Alhamdulillahirobbil’alamin, telah terlaksana kegiatan Area Baca Ceria Jilid 2 (ABC 2) di Panti Asuhan Amanah Trimulyo pada Hari Minggu, 29 Juli 2018. Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama antara Departemen Sosial dan Pengabdian Masyarakat atau kerap disebut Departemen SOSPEM dan teman teman Volunteer.Wah ceria sekali yaa, berikut adalah foto dokumentasi dari ABC JILID 2..

Seru yaa teman teman , kita lihat wajah wajah ceria yang terlihat pada foto dokumentasi ABC 2..

Pada ABC jilid 2 ini dilakukan motivasi membaca dan story telling yang disampaikan oleh Ibu Bintari selaku pemateri terhadap anak-anak panti asuhan di perpustakaan panti asuhan Amanah tersebut. Semoga kegiatan ini dapat memberikan keceriaan terhadap anak-anak dan dapat memberikan motivasi berlebih untuk membaca agar menjadikan generasi muda yang hebat dan bermanfaat , ALLOHUMA AAMMIIN…

Apakah akan ada ABC JILID SELANJUTNYA??? Mari kita tunggu kelanjutannya yaaa…

SIPA, SIKA & SIKTTK Online??

SIPA, SIKA & SIKTTK Online?

Seiring dengan berkembangnya zaman, kebutuhan akan sesuatu yang serba instan, mudah dan praktis menjadi primadona di khalayak ramai. Dengan berkembangya jaringan internet yang semakin memanjakan masyarakat, turut serta memberikan dampak yang mempengaruhi berbagai sistem dewasa ini. Dengan perkembangan teknologi ini juga ikut eksis dalam dunia kesehatan terutama kefarmasian. Bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan profesi dapat memperoleh sertifikat kompetensi profesi secara langsung sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Surat Tanda Registrasi Apoteker (“STRA”).

Kemudian, untuk bekerja menjalankan pekerjaan kefarmasian, apoteker sebagai tenaga kefarmasian wajib memiliki surat izin sesuai tempat ia bekerja. Surat izin yang diperoleh itu berupa Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA). Tenaga kefarmasian termasuk juga dalam tenaga kesehatan. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan .Jadi, apoteker termasuk tenaga kefarmasian yang juga merupakan tenaga kesehatan. Yang dimaksud  Apoteker  adalah  SarjanaFarmasi  yang  telah   lulus  sebagai  Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.

 

Sertifikat Kompetensi Profesi Apoteker

Bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan profesi dianggap telah lulus uji kompetensi dan dapat memperoleh sertifikat kompetensi profesi secara langsung. Sertifikat kompetensi profesi adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi seorang Apoteker untuk dapat menjalankan pekerjaan/praktik profesinya di seluruh Indonesia setelah lulus uji kompetensi.

Setelah sukses dengan sistem full online aplikasi pengajuan Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) baik itu pengajuan baru maupun perpanjangan, kini Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes RI) mengembangkan aplikasi berbasis web untuk Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) yang terintegrasi dengan database STRA untuk seluruh Dinas Kesehatan di Indonesia.

 

LINK TERKAIT STRA TERBARU:

PRESS RELEASE Pencapaian Kerja 3 Bulan Pertama BEM Fakultas Farmasi UAD 2018

“Pencapaian Kerja 3 Bulan Pertama BEM Fakultas Farmasi UAD 2018”

Sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen kami, maka kami melaporkan pencapaian kerja yang telah terlaksana di 3 bulan pertama kami menjabat sebagai keluarga besar BEM FF UAD 2018.

Berikut data pencapaiannya seperti grafik-grafik pada gambar , kami memohon kepada seluruh mahasiswa farmasi Universitas Ahmad Dahlan untuk terus mengawal perjalanan kami dalam membawa BEM FF UAD 2018 melesat lebih baik. semoga seluruh keluarga beesar BEM FF UAD 2018 senantiasa menjalankan program kerja dan amanah- amanah lainnya  dengan penuh semangat dan suka cita, terhindar dari kejenuhan dan kemalasan untuk terus ANTUSIAS BERKONTRIBUSI seperti sedia kala. Karena kami semua anggota BEM FF UAD 2018 telah melaksanakan sumpah yang mana kita bersumpah kepada Tuhan kami Allah SWT  pada saat kami dilantik sehingga kami mengemban amanah mulia untuk mewujudkan visi misi kita bersama.

Semangat  pengurus BEM FF UAD 2018 , terus bekarya dan selamat berproses.

SALAM ANTUSIAS , ANTUSIAS BERKONTRIBUSI!!!!!!!!

Pencapaian Kerja 3 Bulan pertama
BEM FAKULTAS FARMASI 2018 , ANTUSIAS BERKONTRIBUSI !!!
Inilah Pencapaian Kerja yang telah dicapai Departemen Medpub
Departemen Media dan Publikasi
Pencapaian Kerja Deplu
Departemen Luar Negeri
Pencapaian Kerja Departemen KPF
Departemen Keilmuan dan Pengembangan Farmasi
Pencapaian Kerja Departemen Dagri
Departemen Dalam Negeri
Departemen SBO
Departemen Seni Budaya dan Olahraga
Pencapaian kerja Departemen Sospem
Departemen Sosial dan Pengabdian Masyarakat
Pencapaian Kerja Departemen KWU
Departemen Kewirausahaan
Pencapaian Kerja Departemen Kastrat
Departemen Kajian Strategis
Pencapaian Kerja Depag
Departemen Agama

 

Virus Berbahaya dalam PARACETAMOL? VALID or HOAX?

KABARKAN !

Virus Berbahaya dalam PARACETAMOL?

VALID or HOAX?

Beberapa waktu lalu sempat tersebar isu yang memviralkan dunia maya, yang tentu meresahkan masyarakat, tentang paracetamol yang mengandung “Machupo” virus. Diketahui Machupo virus adalah salah satu virus yang cepat penyebarannya salah satunya dengan cara penularan melalui udara. Isu yang memviralkan tersebut telah diklarifikasi oleh BPOM bahwa isu tersebut adalah HOAX.

Isu tersebut sebetulnya telah diklarifikasi BPOM pada tanggal 8 Februari 2017, tetapi dengan banyaknya masyarakat yang tetap menyebarkan tanpa mencari terlebih dahulu kebenarannya, sampai saat ini isu tersebut tetap tersebar.

Klarifikasi Badan POM terkait beredarnya isu produk obat paracetamol yang mengandung virus berbahaya

Beredarnya isu yang berbunyi:

“PERINGATAN:Hati-hati untuk tidak mengambil Paracetamol yang datang ditulis P/500. Ini adalah Paracetamol baru, sangat putih dan mengkilap. Menurut dokter terbukti mengandung “Machupo” virus, dianggap salah satu virus yang paling berbahaya di dunia dan dengan tingkat kematian yang tinggi. Silakan berbagi pesan ini, untuk semua orang dan keluarga dan menyelamatkan hidup dari mereka”.

ISU tersebut adalah HOAX.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) melakukan evaluasi terhadap keamanan, khasiat, mutu, dan penandaan/label produk obat sebelum diedarkan (pre-market evaluation) dan secara rutin melakukan pengawasan terhadap sarana produksi dan distribusi, serta produk yang beredar di wilayah Indonesia (post-market control).

Terkait isu di atas yang disebarkan secara berantai melalui media sosial, sampai saat ini Badan POM tidak pernah menerima laporan kredibel yang mendukung klaim bahwa virus Machupo telah ditemukan dalam produk obat Parasetamol atau produk obat lainnya.

Bagaimana cara cek dan ricek isu valid atau HOAX ? mudah saja, cari sumber yang terpercaya seperti website resmi dari Badan POM : https://www.pom.go.id atau dapat menghubungi contact Center HALO BPOM nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, email :  halobpom@pom.go.id, twitter @bpom_ri, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

         Jadilah masyarakat yang bijak dan tanggap akan adanya isu yang belum pasti kebenarannya. Cek dan ricek sebelum menyebarkan isu yang sedang hangat disebarluaskan.

        Salam Indonesia Sehat dan Indonesia berkemajuan untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

APOTEK ONLINE

HASIL KAJIAN MATA KASTRAT #2

APOTEK ONLINE

Pemateri : Wimbuh Dumadi, S.Si., M.H., Apt

Kamis, 09 Mei 2018

Ruang 305 Kampus 3 UAD Jl. Prof. Dr. Soepomo S.H Warungboto, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DIY

 

Perkembangan zaman yang semakin modern mendorong berbagai macam perubahan system teknologi, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti sistem pendidikan, perdagangan, dan segala macam cara transaksi. Kebutuhan akan sesuatu yang serba instan, mudah dan praktis pun menjadi primadona khalayak umum. Internet merupakan salah satu media yang dapat digunakan oleh konsumen dalam melakukan pencarian segala informasi, bisnis, dan bertransaksi, yang dianggap paling efektif dari segi waktu, tempat, dan biaya yang kian memanjakan masyarakat.

Dengan perkembangan teknologi ini, juga turut eksis dalam dunia kesehatan khususnya kefarmasian. Banyaknya manfaat dari internet dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang jeli dalam membaca peluang usaha untuk menjadikan lahan bisnis yang menguntungkan.

Seperti Apotek online, merupakan suatu inovasi baru dalam dunia kefarmasian dengan memanfaatkan jaringan internet. Seperti yang kebanyakan masyarakat rasakan, yakni tentu terdapat dampak positif dan negative dari pembaruan ini. Munculnya keresahan yang dirasakan oleh mahasiswa farmasi terkait keberadaan apotek online ini, sedikitnya berkurang dengan kebijakan IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) berdasarkan hasil Rakerda-nya, dimana menghimbau masyarakat untuk tidak menggunakan fasilitas pelayanan Apotek Onlin. Namun, rupanya kebijakan tersebut  belum jua menjawab akan pertanyaan dari konsumen dan masyarakat (Mengapa tidak boleh? Bukankah efektivitas sangat diperlukan dalam pelayanan kesehatan? Ada fasilitas internet mengapa tak dipakai?, dan lain sebagainya).

Bagi masyarakat ataupun mahasiswa yang belum memahami tentang adanya Apotek Online baik dari system kerjanya ataupun keuntungan/kerugiannya, pastilah akan dengan leluasa dan tanpa berpikir panjang menggunakan pelayanan tersebut.

Berdasarkan hasil pembahasan oleh pemateri Bapak Wimbuh Dumadi, S.SI., M.H.,

Apt, selaku Ketua Pimpinan Daerah IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) Propinsi DIY. Dimana kita tidak dapat memungkiri bahwa dengan kemajuan teknologi semakin memudahkan banyak aktivitas manusia, termasuk merambah dalam dunia pelayanan kesehatan salah satunya yang menjadi isu akhir-akhir ini adalah Apotek Online. Pelaksanaan apotek online tersebut tentu memunculkan pro dan kontra dari berbagai kalangan. Tujuan diadakannya inovasi apotek online tersebut yakni guna meningkatkan aksesibilitas dan kemudahan pelayanan dan kepastian pelayanan kesehatan tentunnya (oleh Bapak Wmbuh). Namun, yang terpenting dan sangat perlu digarisbawahi adalah obat bukanlah komoditas biasa seperti komoditas ekonomi dan penjualan lainnya yang dengan mudah dapat di onlinekan. Berkaitan dengan pelaksanaan apotek online tersbut pemateri pun menegaskan pula, bahwa siapakah penjamin untuk tidak terjadinya kebocoran system dari apotek online ini? Melihat Indonesia sendiri belum memiliki Undang-undang kefarmasian, dan rancangannyapun pada tahun 2018 ini belum akan dibahas di nasional, dan entah kapan akan dimasukkan dalam system perundang-undangan nasional.

Banyak hal yang masih perlu diperhatikan berkaitan dengan system pelayanan apotek online ini, dimana pelayanan kefarmasian atau obat, bukanlah sembarang bentuk komunikasi yang dengan mudah dapat ditransformasikan dalam system online. Dan ditegaskan oleh beliau (Bapak Wimbuh), nantnya bila UU telah diadakan akan memihak kepada siapakah UU tersebut? Dari sisi kepastian pelayanan kesehataan siapa penjaminnya?, yang pada intinya semua pertanyaan ini menitikberatkan pada “Siapakah yang akan menjamin integritas atau menjamin keamanan pelayanan kesehatan ini?”

Banyak gambaran kelemahan yang akan dapat ditimbulkan diantaranya seperti, skrinning kefarmasiannya sistemnya bagaimana? Akreditasi apotek dan apotekernya, serta keharusan apoteker untuk stand by 24 jam. Karena juga masih banyaknya kekhawatiran apabila terjadi hal-hal yang diluar harapan seperti sumber obat tidak legal atau bukan dari apotek. Adanya apotek online itupun juga berpotensi merugikan bagi tenaga kefarmasian (Apoteker) apabila dikelola dengan sembarangan tanpa dasar aturan yang pasti dalam mengatur regulasinya, dan berdampak sangat besar pada profesi apoteker dimasa mendatang bila sampai terjadi kesalahan yang berarti dalam pelaksanaan system apotek online ini. Dimana akan berdampak pula pada eksistensi apoteker dan peran pentingnya dimata masyarakat karena seperti yang saat ini dirasakan bahwa, apoteker sendiri masih sering salah kiprah tentang tugas dalam profesinya dimata masyarakat awam. Dengan adanya apotek online, hal tersebut akan semakin memburuk bahkan tidak menutup kemungkinan untuk menghilangkan profesi apoteker diwaktu mendatang karena perannya telah tergantikan oleh teknologi, sehingga yang dikhawatirkan pada dampak secara globalnya adalah meningkatkan pengangguran dan seluruh peran profesi diambil alih oleh teknologi dan menghilangkan peran manusia.

Tidak salah mengikuti perkembangan teknologi, bahkan bila tidak mengikuti perubahan teknologi maka akan tertinggal dan sulit untuk diterima masyarakat. Teknologi memiliki banyak manfaat positif apabila digunakan secara tepat, namun juga dapat menimbulkan ketergantungan dan efek negative yang lebih besar bila tak diimbangi dengan kecerdasan dalam mensiasati dan memanfaatkannya. Untuk itu perlu dilakukan pengkajian yang lebih dalam dan kebijakan yang jelas terhadap penggunaan teknologi dibidang tertentu.

Kesimpulan dari kajian ini ialah, apotek online boleh saja diadakan akan tetapi harus memiliki aturan atau perangkat yang jelas, serta regulasi yang dibuat harus jelas dalam system aturan dan dasar hukum yang berlaku sehingga aturannya harus jelas dan clear dahulu, walau begitu tentu membutuhkan proses panjang dan waktu agar tidak terjadi kesalahan yang berkaibat pada merugikan pihak-pihak yang berkaitan. Dan sekedar informasi terkini bahwa Pemerintah Daerah Yogyakarta menolak untuk berlakunya apotek online di

Yogyakarta. [DRR]

Study Banding HIMFA UII Yogyakarta

“PRESS RELEASE STUDY BANDING dari HIMFA FMIPA UII”

Senin, 20 Mei 2018 BEM Fakultas Farmasi UAD Menerima Kunjungan kerja (STUDY BANDING) dari HIMFA FMIPA UII. Kegiatan ini di ikuti oleh anggota BEM Fakultas Farmasi UAD dan HIMFA FMIPA UII yang dilaksanakan di ruang 206 Kampus 3 UAD. Kegiatan yang di fasilitasi oleh Departemen Luar Negeri ini bertujuan untuk bertukar ilmu keorganisasian dan sharing program kerja antara BEM Fakultas farmasi UAD maupun HIMFA FMIPA UII,  serta sarana menjalin silaturahmi.

Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan sambutan gubernur BEM F Farmasi dan Ketua HIMFA FMIPA UII sekaligus perkenalan dan pemaparan grand design masing-masing lembaga. Setelah itu, dilakukan sesi tanya jawab serta Forum Group Discussion (FGD) antara divisi di HIMFA FMIPA UII dengan departemen yang serupa dari BEMF Farmasi UAD. Selanjutnya  presentasi hasil diskusi yang diwakilkan oleh masing-masing divisi atau departemen.  Acara ditutup dengan pemberian kenang-kenangan serta foto bersama pengurus BEMF Farmasi UAD dan HIMFA FMIPA UII.

Harapannya dari kegiatan ini dapat saling bertukar pikiran serta pengalaman yang dapat membawa pengaruh positif bagi masing-masing lembaga untuk kedepannya. Terima kasih kepada Himpunan Mahasiswa Farmasi FMIPA Universitas Islam Indonesia yang telah berkunjung, semoga berkesan, dan semoga tetap terjalin hubungan yang baik.

 

Regards

Departemen Luar Negeri

Bem Fakultas Farmasi UAD

BEMF FARMASI UAD X HIMFA UII

HASIL KAJIAN MATA KASTRAT #1

HASIL KAJIAN MATA KASTRAT #1

MORATORIUM FARMASI
Pemateri : Dr. Dyah Aryani Perwitasari, M.Sc., PhD.,Apt

Kamis, 26 April 2018

Ruang 205 Kampus 3 UAD Yogyakarta

 

Berdasarkan data oleh Asosiasi Perguruan Tinggi di Indonesia (APTFI)  setiap tahunnya selalu terjadi peningkatan pembukaan program studi baru jenjang S-1 jurusan Farmasi di berbagai wilayah di Indonesia. Sampai bulan Maret tahun 2018 tercatat ada 176 prodi S-1 Farmasi dan hanya ada 38 Program Studi Profesi Apoteker (PSPA) yang tersebar di Indonesia. Perbedaan yang sangat jauh ini membuat setiap tahunnya banyak lulusan S-1 Farmasi di seluruh Indonesia berebut kursi untuk dapat melanjutkan ke jenjang PSPA. Maraknya pembukaan program studi baru jenjang S-1 Farmasi di berbagai daerah di Indonesia menimbulkan tanda tanya di para akademisi, mengapa hanya beramai-ramai membuka program studi baru S-1 Farmasi bukan PSPA?  Fakta di lapangan menjelaskan bahwa pembukaan program studi baru jenjang S-1 Farmasi dibilang sangatlah mudah, dikarenakan tidak perlu adanya kunjungan atau visitasi serta validasi oleh pihak Dikti, bahkan pendaftaraan nya pun cenderung dipermudah dengan adanya layanan berbasis online. Hal ini berbeda dengan PSPA yang salah satu syaratnya saja harus mempunyai minimal 6 doktor. Sehingga dalam pelaksanaan pembukaan program studi S-1 Farmasi menimbulkan berbagai penyimpangan, seperti dosen yang tidak ada dan hanya menjual ijazah saja sampai sarana dan prasarana yang masih belum memadai, contohnya seperti laboratorium. Tercatat baru ada 14 Program Studi S-1 Farmasi yang mempunyai akreditasi A. Bahkan ada Perguruan Tinggi yang program studi S-1 Farmasi nya mengalami penurunan akreditasi, hal ini dikarenakan adanya pergeseran instrumentasi di laboratorium ke arah yang lebih modernisasi, Perguruan Tinggi yang tidak dapat mengikuti pergeseran tersebut akan terkikis kualitasnya dan berdampak pada turunnya akreditasi program studi Farmasi nya. Masih sedikitnya Program Studi S-1 Farmasi yang meraih akreditasi A menunjukan masih rendahnya kualitas lulusan farmasi yang berkompeten di masyarakat, padahal pekerjaan kefarmasian adalah pekerjaan yang penting dan mulia dalam menjalankan asuhan kefarmasiannya.

Bercermin dari fakta diatas, maka moratorium farmasi adalah sebuah langkah yang sangat solutif dalam menjawab berbagai permasalahan yang ada. Dr.Dyah Aryani Perwitasari M.Sc., PhD., Apt selaku dekan Fakultas Farmasi UAD sekaligus selaku anggota majelis pendidikan tinggi APTFI mengatakan Moratorium Farmasi perlu diberlakukan dengan jangka waktu 5 tahun serentak di seluruh wilayah di Indonesia, nantinya selama 5 tahun tersebut Program studi S-1 Farmasi yang ada dipersilahkan untuk meningkatkan kualitasnya dulu, diikuti dengan pembukaan PSPA diberbagai daerah, tidak hanya di suatu wilayah misal hanya di Jawa saja. “Usul Moratorium Farmasi sudah disampaikan dari APTFI ke Dikti dan sampai saat ini kami hanya sedang menunggu hasil dari pengajuan usulan tersebut” jelasnya.  Lebih lanjut ditanggapi oleh peserta kajian apakah dengan adanya Moratorium Farmasi ini dapat menjadi solusi juga bagi pemerataan tenaga kefarmasian di daerah terpencil? “Disetiap daerah yang terpencil itu pasti ada wilayah yang terdekatnya yang ada tempat program Studi S-1 Farmasi nya,nantinya silahkan wilayah yang tertinggal tersebut berkoordinasi mengenai pemerataan tenaga kefarmasian dengan wilayah terdekatnya  yang mempunyai program studi S-1 Farmasi dan PSPA tersebut. Yang terpenting sekarang adalah fokus untuk peningkatan kualitas pendidikan jenjang S-1 Farmasi dulu di Indonesia, karena dari segi kuantitatif sudah sangat melampaui.” Jelasnya. Beliau pun membahas bahwa dari APTFI terdapat komisi organisasi dan Pendampingan yang bekerja membahas tentang visitasi dan pembukaan program studi farmasi.

MORATORIUM KEFARMASIAN

MORATORIUM KEFARMASIAN

 

Moratorium berasal dari bahasa latin yaitu Morari yang berarti penundaan, menurut KBBI, moratorium berarti penangguhan atau penundaan. Sehingga moratorium kefarmasian dapat diartikan sebagai penundaan pembukaan program studi farmasi, dengan arti lain pembukaan program studi farmasi dihentikan dalam waktu tertentu.

 

Maraknya pembukaan program studi farmasi baru di Indonesia yang dibawahi dari berbagai institusi maupun yayasan melandasi adanya moratorium kefarmasian ini, hal itu dikarenakan penambahan jumlah dari segi kuantitas pendidikan dengan jurusan farmasi tidak diimbangi dengan segi kualitasnya. Berdasarkan data dari BAN-PT dari 163 program studi farmasi yang sudah terakreditasi di Indonesia baru sekitar 20 institusi farmasi terakreditasi A, sekitar 60 institusi terakreditasi B dan sisanya masih terakreditasi C.

 

Pada tahun 2014, Dirjen Dikti menyebutkan jurusan farmasi adalah jurusan di perguruan tinggi dengan peminat terbanyak ke-5 di Indonesia, dijelaskan lebih lanjut dikarenakan jurusan farmasi adalah jurusan kesehatan yang mana kesehatan merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia,  masih tingginya asumsi masyarakat bahwa lulusan farmasi akan mudah mencari pekerjaan dengan status sosial yang bergengsi di masyarakat ditambah dengan masih kurangnya pemerataan tenaga kesehatan di berbagai wilayah membuat jurusan farmasi bagaikan kantong semar di tengah koloni serangga. Hal tersebutlah yang membuat berbagai institusi berlomba-lomba membuka jurusan farmasi yang murah dan dapat dijangkau oleh daerah terpencil, namun sayangnya tidak diimbangi dengan segi kualitas dan pembukaan prodi Apoteker. Padahal seorang farmasis adalah tenaga kesehatan yang dipercaya untuk mencegah medication error dalam pengobatan. Berdasarkan data BAN-PT tahun 2018 baru ada 26 prodi Apoteker di Indonesia. Bila kita melihat rasio perbandingan apoteker dengan masyarakat (1:4552) yang masih jauh dari rekomendasi dari WHO (1:2000), Indonesia masih membutuhkan banyak program studi profesi apoteker yang dapat menambah kuantitas dari tenaga apoteker. Perbandingan jumlah program studi S-1 Farmasi dengan Program studi Apoteker melandasi terjadinya praktek apotek tanpa apoteker yang masih terjadi di berbagai daerah yang menimbulkan medication error semakin meningkat.

 

Bercermin dari fakta diatas, lantas apakah moratorium kefarmasian perlu diberlakukan? Apakah dengan adanya moratorium kefarmasian akan menjadi solusi dari masalah yang ada? Semuanya akan dikaji secara tajam dalam acara MATA KASTRAT #1 “Ideologi Kritis dan Aksi Nyata Moratorium Prodi S1 Farmasi”.

 

Dengan pemateri Dr. Dyah Aryani Perwitasari, Ph.D., Apt.

 

Tunjukan ideologi dan solusimu sebagai mahasiswa farmasi dan ciptakan aksi nyata yang solutif demi masa depan Indonesia yang lebih baik !

 

 

-Dept. Kajian dan Strategis BEM Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan 2018-