MORATORIUM KEFARMASIAN

MORATORIUM KEFARMASIAN

MORATORIUM KEFARMASIAN

 

Moratorium berasal dari bahasa latin yaitu Morari yang berarti penundaan, menurut KBBI, moratorium berarti penangguhan atau penundaan. Sehingga moratorium kefarmasian dapat diartikan sebagai penundaan pembukaan program studi farmasi, dengan arti lain pembukaan program studi farmasi dihentikan dalam waktu tertentu.

 

Maraknya pembukaan program studi farmasi baru di Indonesia yang dibawahi dari berbagai institusi maupun yayasan melandasi adanya moratorium kefarmasian ini, hal itu dikarenakan penambahan jumlah dari segi kuantitas pendidikan dengan jurusan farmasi tidak diimbangi dengan segi kualitasnya. Berdasarkan data dari BAN-PT dari 163 program studi farmasi yang sudah terakreditasi di Indonesia baru sekitar 20 institusi farmasi terakreditasi A, sekitar 60 institusi terakreditasi B dan sisanya masih terakreditasi C.

 

Pada tahun 2014, Dirjen Dikti menyebutkan jurusan farmasi adalah jurusan di perguruan tinggi dengan peminat terbanyak ke-5 di Indonesia, dijelaskan lebih lanjut dikarenakan jurusan farmasi adalah jurusan kesehatan yang mana kesehatan merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia,  masih tingginya asumsi masyarakat bahwa lulusan farmasi akan mudah mencari pekerjaan dengan status sosial yang bergengsi di masyarakat ditambah dengan masih kurangnya pemerataan tenaga kesehatan di berbagai wilayah membuat jurusan farmasi bagaikan kantong semar di tengah koloni serangga. Hal tersebutlah yang membuat berbagai institusi berlomba-lomba membuka jurusan farmasi yang murah dan dapat dijangkau oleh daerah terpencil, namun sayangnya tidak diimbangi dengan segi kualitas dan pembukaan prodi Apoteker. Padahal seorang farmasis adalah tenaga kesehatan yang dipercaya untuk mencegah medication error dalam pengobatan. Berdasarkan data BAN-PT tahun 2018 baru ada 26 prodi Apoteker di Indonesia. Bila kita melihat rasio perbandingan apoteker dengan masyarakat (1:4552) yang masih jauh dari rekomendasi dari WHO (1:2000), Indonesia masih membutuhkan banyak program studi profesi apoteker yang dapat menambah kuantitas dari tenaga apoteker. Perbandingan jumlah program studi S-1 Farmasi dengan Program studi Apoteker melandasi terjadinya praktek apotek tanpa apoteker yang masih terjadi di berbagai daerah yang menimbulkan medication error semakin meningkat.

 

Bercermin dari fakta diatas, lantas apakah moratorium kefarmasian perlu diberlakukan? Apakah dengan adanya moratorium kefarmasian akan menjadi solusi dari masalah yang ada? Semuanya akan dikaji secara tajam dalam acara MATA KASTRAT #1 “Ideologi Kritis dan Aksi Nyata Moratorium Prodi S1 Farmasi”.

 

Dengan pemateri Dr. Dyah Aryani Perwitasari, Ph.D., Apt.

 

Tunjukan ideologi dan solusimu sebagai mahasiswa farmasi dan ciptakan aksi nyata yang solutif demi masa depan Indonesia yang lebih baik !

 

 

-Dept. Kajian dan Strategis BEM Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan 2018-

PEMOTONGAN TUMPENG DALAM RANGKA MILAD FARMASI UAD KE 22

PEMOTONGAN TUMPENG DALAM RANGKA MILAD FARMASI UAD KE 22

Kamis, 22 Maret 2018. Bertempat diruang sidang Dekanat Fakultas Farmasi dilaksanakan pemotongan tumpeng dalam rangka memperingati Milad Farmasi UAD yang ke-22 di tahun 2018 ini. Dalam acara tersebut turut dihadiri oleh pimpinan fakultas diantaranya Dekan Farmasi yaitu Dr. Dyah Aryani Perwitasari, M.Si., Ph.D.,Apt, Wakil Dekan Farmasi yaitu Dr. Nining Sugihartini, M.Si.,Apt dan Jajaranya seperti Kaprodi, Sekprodi dan Dosen serta karyawan. Selain itu juga turut diharidi oleh Pendiri Farmasi UAD sepeti Bapak Tedjo Yuwono, tidak hanya itu dalam acara tersebut juga dihadiri dari perwakilan mahasiswa seperti dari BEM, DPM dan Mahasiswa umum.

Dalam kesempatan tersebut acara di buka oleh Bapak Mustofa Ahda selaku MC. Dalam acara tersebut Dekan Farmasi UAD juga memberikan sambutan. “Jika ibaratkan umur manusia maka farmasi UAD sudah menginjak umur yang tak lagi remaja tetapi sudah masuk masa dewasa artinya masa keemasan Farmasi telah dimulai dan tantangan kedepan akan semakin besar dan harapan saya bisa semakin bisa mengembangkan farmasi UAD lewat Apotek UAD dan membuat produk sendiri seperti kecantikan untuk dapat di jual sebagai produk andalan fakultas.” Jelaskan beliau. Tak lupa dalam kesempatan tersebut beliau mengungkapakan rasa syukur atas nikmat Allah Subhanahuwatala atas kesempatan Milad Farmasi UAD ini semoga kedepan Farmasi UAD menjadi lebih baik lagi. Pungkasnya.

Kemudian acara dilanjutkan terhadap acara inti yaitu pemotongan tumpeng dan diserahkan keperwakilan Pendiri Farmasi UAD dalam hal ini diwakilkan ke Pak Tedjo Yuwono, selanjutnya Perwakilan Karyawan diwakilkan ke Pak Sugiyono dan perwakilan Mahasiswa diwakilkan ke Gubernur BEM Farmasi yaitu Rudi Afrinanda.

Dalam acara tersebut juga turut memperkenalkan logo dan tema milad Farmasi UAD ke 22 yaitu dengan tema PHYFORIA : Pharmacy Inspire for Indonesia. Harapannya diumur yang semakin dewasa ini Farmasi UAD semakin nyata hadir ditengah seluruh civitas akademika dan masyarakat luar agar semakin nyata kontribusinya dibidang kefarmasian.

Kemudian acara diakhiri dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Bapak Mohammad Muhlis dan kemudian ditutup dengan makan tumpeng bersama-sama seluruh peserta. Sekali lagi selamat kepada Farmasi UAD yang telah berumur ke 22 tahun semoga semakin menginspirasi.

 

Ditulis oleh :

Departemen Media dan Publikasi

BEM FF UAD 2018

Kaleidoskop Desa Binaan Tepus – Gunung Kidul

Desa tepus, kecamatan wuluh, kabupaten Gunung Kidul sudah sejak lama menjadi perhatian Fakultas Farmasi untuk mengembangkan kehidupan disana. Desa ini dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan darat dengan bermotor atau mobil, dengan suasananya perbukitan dan juga dekat dengan daerah wisata menjadi daya tarik tersendiri jika kita ingin berkunjung kesana. Tercatat sudah dua dekade ini Farmasi UAD mengembangkan kehidupan disana, mulai pengembangan pola hidup sehat sampai pembelajaran ibadah dasar bagi seorang muslim. Dari solat lima waktu sampai qurban di hari raya idul adha.

Dalam pelaksanaannya, pembinaan desa binaan ini di pegang langsung oleh BEM Fakultas Farmasi UAD melalui Departemen Sosial dan Pengabdian Masyarakat. Dalam setahun perwakilan BEM paling sedikit empat kali berkunjung ke desa binaan tersebut dengan berbagai kegiatan yang telah tersusun dan terencana selama satu tahun kepengurusan. Kegiatan dimulai dari Pelatihan ibadah (Solat, Mengaji) , Cek kesehatan, Perayaan hari raya, Tabligh Akbar dan kegiatan lainnya. Yang paling kelihatan dari kehadiran Farmasi UAD di desa Tepus adalah telah berdirinya masjid dan sudah rutinnya dilaksanakan pelaksanaan solat lima waktu secara berjamaan dan anak-anak mulai gemar mengaji dan tak hanya itu masyarakat telah sadar akan pentingnya pelaksaan pemotongan hewan qurban pada setiap hari raya Idul Adha.

Kegiatan yang saat ini berjalan diantaranya :

  1. Kegiatan Ramadhan
Merupakan kegiatan pada bulan ramadhan yang dilakukan bersama masyarakat padukugan wuluh, meliputi kegiatan keagamaan  maupun kegiatan masyarakat lainnya seperti mengajar TPA, pelatihan ibadah, lomba anak-anak, buka puasa bersama, dll.
Untuk meningkatkan iman dan takwa terhadap Allah SWT dan mengisi bulan ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat

Meningkatkan jiwa sosial yang islami yang sesuai dengan syariat islam

Meningkatkan ilmu pengetahuan dalam bidang keagamaan

2. Kegiatan Qurban

Kegiatan yang rutin dilaksanakan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT setiap Bulan dzulhijah.

3. Pelatihan Ibadah

Pelatihan ini untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk beribadah. Seperti ibadah solat, mengaji dan ibadah lainnya.

Berikut Dokumentasi Kegiatan di Desa Tepus :

Klik Disini : SOSPEM-TEPUS (1)

Klik Disini : File 2

2 MERK SUPLEMEN TERCIDUK HARAM

2 Merk Suplemen Terciduk Haram,

Apa kabar konsumen?

 

Sahabat, akhir bulan pertama di tahun 2018 (baca: Januari) masyarakat Indonesia digemparkan tentang surat internal BPOM terkait hasil pengujian 2 merk suplemen makanan, yakni Enzyplex dan Viostin DS yang tersebar viral di dunia maya.

Kasus ini kian memanas karena ditemukannya unsur babi yang diharamkan dalam hukum Islam bagi umatnya. Terkait hal tersebut faktanya masyarakat Indonesia mayoritas muslim.

Enzyplex adalah obat lambung dan saluran cerna yang mengandung enzim-enzim perncernaan, multivitamin dan mineral untuk melancarkan pencernaan dan metabolisme di dalam tubuh. Enzyplex digunakan untuk mengatasi kembung, perut terasa penuh dan begah, sering kentut, mual-mual, nyeri ulu hati, dan untuk melancarkan buang air besar. Bentuk sediaan Enzyplex adalah tablet.

Sedangkan, Viostin DS adalah suplemen makanan yang digunakan untuk meringankan osteoarthritis, rematik, dan gangguan pada persendian dan tulang rawan. Suplemen ini mengandung glucosamine, chondroitin sulfate, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Bentuk sediaan Viostin DS adalah kaplet.

Dalam tindakannya BPOM memberikan tenggang waktu sampai satu bulan untuk melakukan penarikan dari kedua produk tersebut dalam pasaran. Dan untuk masyarakat umum dihimbau bila masih menemukan 2 produk tersebut agar dapat melaporkan pada BPOM untuk dapat ditindak lanjuti.

Menanggapi kasus tersebut, berbagai pihak terkait pun angkat bicara. PT Pharos Indonesia (produsen Viostin DS) menerangkan telah menuruti arahan BPOM untuk menarik dan menghentikan produksi obat tersebut sejak adanya temuan indikasi kontaminasi ini pada akhir November 2017.

Dari hasil penelusuan, ternyata pihak perusahaan menemukan sumber kontaminasi berdasarkan dari Chondroitin Sulfat yang didatangkan dari luar negeri. Hal ini juga diperkuat dari penyataan MUI yang mengapresiasi tindakan PT. Pharos tersebut dan menyampaikan bahwa bentuk sediaan Enzyplex adalah tablet dan Viostin DS adalah kaplet. Viostin DS menggunakan bahan baku yang halal, namun beberapa produk kecolongan dengan bahan baku yang terkontaminasi, sehingga MUI menghimbau kepada masyarakat untuk tidak resah dan terlalu khawatir tentang kasus ini.

Pihak PT. Medifarma Laboratories (produsen produk Enzyplex) menanggapi bahwa NIE yang disebutkan dalam surat BPOM dan Press Release adalah NIE kemasan botol yang sudah tidak diproduksi sejak tahun 2013 dan yang beredar hanyalah kemasan catch cover, pihak produsen Enzyplex menambahkan kemasan yang saat ini beredar telah melalui uji laboratotium BPOM. Hal ini bertolak belakang dengan surat internal hasil pengujia BPOM yang menunjukan produk Enzyplex positif mengandung DNA Babi.

Kasus ini juga menuai tanggapan dari  masyarakat. Masyarakat banyak menyatakan kecewa dan mempertanyakan kinerja badan yang terkait, seperti MUI, BPOM, LPH sehingga dalam hal ini masyarakat merasa dirugikan. Padahal dengan jelas sudah diatur dalam UU no 33 tahun 2014 tentang Jaminan Kehalalan Produk.

Apa yang sudah terjadi tidak dapat dikembalikan lagi, namun dapat kita perbaiki untuk sistem kinerja agar dapat melayani masyarakat umum dengan lebih baik lagi kedepannya.

TRAINING HERBAL MEDICINE

TRAINING HERBAL MEDICINE

I would like to inform you about
“Training grants on Medicinal Plants:
Beyond Monograph to Herbal Product for AEC”
16th-20th July 2018,
at Prince of Songkla University,
Hat-Yai, Songkhla THAILAND.

So, all details are in the attached files.

This training will be free for 10-15 participants.
The course fee of US$ 160 per person is waived
for 10-15 applicants, who are selected by the committee.
They have to pay only for flight, the room and the other by themselves.

Additional participants should pay the course fee in advance directly to
the Faculty of Pharmaceutical Sciences, Prince of Songkla University,
Hat Yai, Songkhla, Thailand.

So, please announcement this training to your staffs and students.

The applicant should send the application letter and CV to me within the
deadline; Feb 28, 2018.

 

Thank you very much,
Best regards,
Sukanya

__________________________________________
Sukanya Dej-adisai, Ph.D
Head, Department of Pharmacognosy and Pharmaceutical Botany,
Faculty of Pharmaceutical Sciences,
Prince of Songkla University,
Hat-Yai, Songkhla 90110 Thailand
Tel. & Fax. +66-74-428220

More Information : 082323198949 (Bella)

Departemen Luar Negeri

BEM FF UAD 2018

*SYARAT LEBIH LAJUTNYA DAPAT DIBACA PADA ARTIKEL TERLAMPIR BERIKUT INI :

Tentative program

Training Announcement-2018